Imogiri Royal Cemetery: Religious and Historical Tourism of the Mataram Kingdom
The Imogiri royal cemetery atop Bukit Merak is the final resting place of Mataram kings, built on Sultan Agung's initiative since the 17th century.
Di puncak Bukit Merak, di antara Desa Girirejo dan Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Bantul, terletak kompleks makam yang jadi peristirahatan terakhir raja-raja Mataram — dari masa Mataram Islam bersatu, hingga terbelah menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Sejarah Singkat
Pembangunan kompleks makam ini diprakarsai oleh Sultan Agung, raja Mataram yang ingin membangun makam leluhurnya di luar Kotagede. Menurut cerita turun-temurun, lokasi makam ditentukan dengan cara Sultan Agung melempar segenggam pasir — di mana pasir itu jatuh, di situlah beliau ingin dimakamkan. Lemparan pertama jatuh di Giriloyo, tapi setelah pengawas pembangunannya wafat dan dimakamkan di sana, Sultan Agung melempar pasir sekali lagi — kali ini jatuh di Bukit Merak, lokasi kompleks makam yang berdiri sampai sekarang.
Yang Bisa Dilihat di Sana
Untuk mencapai kompleks makam utama, peziarah harus menaiki ratusan anak tangga menuju puncak bukit — perjalanan yang sekaligus jadi bagian dari pengalaman ziarah itu sendiri. Dari atas, pemandangan Bantul terbentang luas, sekaligus jadi pengingat kenapa lokasi ini dipilih sebagai tempat peristirahatan para raja.
Kompleks ini masih aktif digunakan hingga sekarang dan terbuka untuk masyarakat umum yang ingin berziarah maupun sekadar mengenal sejarah Mataram lebih dekat. Ada aturan berpakaian adat tertentu untuk masuk ke area makam utama, biasanya disediakan oleh pengelola setempat.
Lokasi & Akses
Berada sekitar 17 km sebelah selatan pusat Kota Yogyakarta, di puncak Bukit Merak antara Desa Girirejo dan Wukirsari.
Tips Berkunjung
- Gunakan pakaian sopan — ini situs religi aktif, bukan sekadar objek foto.
- Siapkan stamina untuk menaiki tangga — jumlahnya cukup banyak, terutama kalau datang siang hari saat cuaca terik.
- Kombinasikan dengan Kampung Batik Giriloyo yang lokasinya sangat dekat, sehingga satu perjalanan bisa mencakup sisi religi dan kerajinan sekaligus.
- Datang di luar hari-hari ziarah besar (seperti menjelang Ramadan) kalau ingin suasana yang lebih tenang.
Makam Imogiri bukan sekadar situs sejarah yang dibaca dari buku — ini tempat yang masih hidup, masih dikunjungi, dan masih jadi bagian dari cara masyarakat Jawa menghormati leluhurnya.


