Candi induk Kedulan menghadap timur di cekungan tanah di Kalasan, Sleman
Budaya & Sejarah4 menit baca·

Candi Kedulan: Candi yang Terkubur 8 Meter di Kalasan

Candi Kedulan di Kalasan, Sleman ditemukan penambang pasir pada 1993 dalam kondisi terkubur 8 meter. Simak sejarah, prasasti, dan info kunjungannya.

Candi Kedulan berada di Dusun Kedulan, Kelurahan Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, sekitar 12 kilometer ke arah timur laut dari pusat Kota Yogyakarta.

Lokasinya berdekatan dengan Sungai Wareng dan berada di lahan yang posisinya lebih rendah dari sekitarnya. Kondisi geografis ini bukan sekadar detail — ia jadi bagian penting dari cerita bagaimana candi ini bisa hilang selama berabad-abad.

Candi yang Hilang, Lalu Ditemukan Penambang Pasir

Pada 1993, sekelompok penambang pasir yang menggali di tanah bengkok Desa Tirtomartani menemukan susunan blok batu pada kedalaman sekitar tiga meter. Salah satu pekerja melaporkannya, dan tindak lanjut dari pihak purbakala mengungkap bahwa blok-blok itu bagian dari sebuah kompleks candi utuh yang terpendam.

Kajian stratigrafi kemudian menunjukkan candi ini tertutup lahar setebal sekitar delapan meter yang tersusun atas lima belas lapisan sedimen. Angka itu berarti penimbunannya tidak terjadi sekali, melainkan bertahap sepanjang berabad-abad erupsi Gunung Merapi — dugaan kuat mengarah pada letusan besar sekitar awal abad ke-11.

Kabar baiknya, sekitar 85 persen batu asli candi masih bisa ditemukan meski berserakan. Persentase setinggi itu yang membuat pemugaran layak dilakukan, sekalipun prosesnya berlarut puluhan tahun karena posisi candi yang lebih rendah dari sungai membuat area galian sulit dikeringkan.

Prasasti Sumundul, Pananggaran, dan Info Kunjungan

Sampai kini belum ditemukan bukti tertulis yang secara langsung menerangkan pendirian Candi Kedulan. Yang tersedia adalah dua prasasti yang ditemukan di halaman situs pada awal 2000-an — Prasasti Sumundul dan Prasasti Pananggaran — bertarikh 791 Saka atau sekitar 868–869 Masehi.

Isinya justru bukan soal candi. Kedua prasasti berbahasa dan beraksara Jawa Kuno itu menjelaskan keberadaan sebuah dawuhan alias bendungan yang digunakan bersama oleh masyarakat dua desa, lengkap dengan kewajiban membayar pajak untuk pengelolaannya. Temuan ini jadi bukti bahwa manajemen irigasi pertanian sudah dikenal rapi pada abad ke-9.

Kompleksnya sendiri bercorak Hindu, terdiri atas satu candi induk menghadap timur dan tiga candi perwara di hadapannya. Coraknya dipastikan lewat temuan lingga-yoni serta arca Durga Mahisasuramardini, Nandiswara, Mahakala, Ganesha, dan Agastya. Candi induknya memakai batu andesit di bagian luar dan batu tufa di bagian dalam. Karena kawasannya dikelola sebagai cagar budaya dan bukan objek wisata komersial, sebaiknya konfirmasi jam kunjungan ke pengelola setempat sebelum datang.

Eksplorasi Destinasi Sekitar di Kalasan

  • Candi Sari - sekitar 2 km - Vihara Buddha dua lantai dengan sembilan stupa di atapnya, dulunya asrama para biksu.
  • Candi Kalasan - sekitar 2,5 km - Candi Buddha tertua di Yogyakarta yang berdiri sejak 778 Masehi.
  • Candi Sambisari - sekitar 3 km - Candi Hindu lain yang juga terkubur abu Merapi dan kini berdiri 6,5 meter di bawah tanah.

Kesimpulan

Candi Kedulan menyimpan dua lapis cerita sekaligus: bukti kedahsyatan Merapi yang mampu mengubur bangunan setinggi itu, dan catatan prasasti tentang masyarakat abad ke-9 yang sudah mengelola bendungan berikut sistem pajaknya. Kunjungi berbarengan dengan Sambisari untuk melihat dua nasib serupa dalam satu perjalanan.

FAQ: Seputar Candi Kedulan

Kapan Candi Kedulan ditemukan?

Pada 1993, secara tidak sengaja oleh penambang pasir di Desa Tirtomartani. Sumber mencatat tanggal yang berbeda-beda, antara 24 September dan 24 November 1993.

Seberapa dalam Candi Kedulan terkubur?

Sekitar delapan meter di bawah permukaan tanah, tertutup material lahar Merapi yang tersusun atas lima belas lapisan sedimen dari beberapa periode erupsi.

Apa isi Prasasti Sumundul dan Pananggaran?

Keduanya bertarikh 791 Saka (sekitar 868–869 M) dan menjelaskan keberadaan sebuah dawuhan atau bendungan yang digunakan bersama oleh dua desa, termasuk kewajiban pajak untuk pengelolaannya.

Rencanakan Trip Jogja-mu

Ada pertanyaan? Hubungi kami di WhatsApp. Konsultasi gratis, tanpa kewajiban.

Chat WhatsApp