Candi Banyunibo: Si Sebatang Kara di Tengah Sawah
Candi Banyunibo di Bokoharjo, Sleman berdiri sendirian di tengah sawah dengan stupa Buddha di puncaknya. Simak sejarah, harga tiket, dan jam bukanya.
Candi Banyunibo berada di Dusun Cepit, Kelurahan Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, sekitar 18 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta atau kurang lebih 45 menit berkendara.
Patokannya mudah: dari kawasan Candi Prambanan, ambil arah selatan menuju jalur Ratu Boko. Candi ini muncul di sisi jalan, berdiri sendirian di tengah petak sawah dan kebun tebu milik warga.
Satu Candi Induk yang Berdiri Tanpa Tetangga
Warga sekitar menjulukinya “Si Sebatang Kara”. Sebutan itu bukan kiasan berlebihan: berbeda dari Prambanan atau Sewu yang berupa gugusan rapat, Banyunibo hanya menyisakan satu candi induk yang menghadap ke barat, dikelilingi reruntuhan enam candi perwara yang tak lagi bisa disusun ulang.
Justru kesendirian itu yang jadi daya tariknya. Tanpa pagar tinggi dan tanpa bangunan lain yang menghalangi, candi ini terbaca utuh dari kejauhan dengan latar hamparan hijau — pemandangan yang jarang didapat di situs percandian lain yang sudah dikepung fasilitas wisata.
Ciri Buddha-nya paling jelas terlihat di puncak, berupa stupa yang bertengger di atas atap. Hampir seluruh permukaan candi dipenuhi ornamen dan relief, termasuk motif tanaman dalam pot dan hiasan daun padma di bawah garis atap. Kata “banyunibo” sendiri berarti air jatuh atau menetes dalam bahasa Jawa, meski tidak ada sumber air di sekitarnya — sejarawan menduga dahulu ada aliran sungai kecil di depan candi.
Peninggalan Mataram Kuno yang Dipugar Bertahap dan Info Kunjungan
Candi Banyunibo diperkirakan dibangun pada abad ke-9 Masehi di masa Kerajaan Mataram Kuno, satu periode dengan Ratu Boko, Barong, dan Ijo yang berada di perbukitan tak jauh dari sini.
Saat ditemukan kembali sekitar November 1940, kondisinya nyaris runtuh total. Pemugarannya berjalan panjang dan bertahap: penelitian dan penggalian dimulai awal 1940-an, tahap pertama merampungkan bagian kaki, tubuh, dan pagar sisi utara, lalu pemugaran lanjutan pada 1976 menyelesaikan atap dan stupa puncaknya. Prosesnya baru benar-benar tuntas pada 1978.
Untuk kunjungan, tiket masuknya berkisar Rp5.000 per orang dengan parkir sekitar Rp2.000 (motor), Rp5.000 (mobil), dan Rp10.000 (bus) — beberapa sumber bahkan menyebut hanya ada retribusi sukarela, jadi ada baiknya dikonfirmasi di lokasi. Kawasan buka setiap hari mulai pukul 06.00 sampai 17.00 WIB.
Eksplorasi Destinasi Sekitar di Jalur Ratu Boko
- Keraton Ratu Boko - sekitar 1 km - Situs istana kuno di perbukitan dengan gerbang batu megah dan panorama senja.
- Candi Barong - sekitar 2 km - Punden berundak bercorak Waisnawa yang tersembunyi di perbukitan Sambirejo.
- Candi Ijo - sekitar 3 km - Kompleks candi tertinggi di DIY dengan sebelas teras berundak menghadap dataran Yogyakarta.
Kesimpulan
Candi Banyunibo adalah pilihan tepat bagi yang ingin melihat candi Mataram Kuno tanpa keramaian dan tanpa lapisan fasilitas wisata. Berdiri sendirian di tengah sawah, candi ini justru menawarkan kedekatan visual yang sulit didapat di situs-situs yang lebih besar.
FAQ: Seputar Candi Banyunibo
Berapa tiket masuk Candi Banyunibo?
Berkisar Rp5.000 per orang, dengan parkir sekitar Rp2.000 (motor), Rp5.000 (mobil), dan Rp10.000 (bus). Sebagian sumber menyebut hanya ada retribusi sukarela, jadi sebaiknya dikonfirmasi di lokasi.
Kenapa Candi Banyunibo disebut Si Sebatang Kara?
Karena candi induknya berdiri terpisah dari kelompok candi lain, dikelilingi hanya oleh reruntuhan enam candi perwara yang sudah tidak bisa disusun kembali.
Kapan jam buka Candi Banyunibo?
Setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 17.00 WIB, termasuk saat hari libur nasional.


