Bangunan galeri beratap lengkung menyerupai pelepah pisang di Museum Affandi, Sleman
Budaya & Sejarah6 menit baca·

Museum Affandi: Tiket, Galeri, dan Jam Buka di Sleman

Museum Affandi di Caturtunggal, Sleman menyimpan sekitar 300 lukisan sang maestro dalam bangunan beratap pelepah pisang. Simak tiket, galeri, dan jam bukanya.

Museum Affandi berada di Jalan Laksda Adisucipto No. 167, Dusun Papringan, Kelurahan Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, tepat di tepi barat Sungai Gajah Wong. Jaraknya sekitar 5 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta, di jalur utama yang menghubungkan Jogja dengan Solo.

Patokannya paling mudah: museum ini berada di seberang UIN Sunan Kalijaga. Kalau naik Trans Jogja, jalur 1B, 4A, dan 5A berhenti di halte dekat SMA Kolese De Britto — dari situ tinggal berjalan sekitar 300 meter.

Bangunan yang Ikut Jadi Karya Seni

Hal pertama yang menarik perhatian di sini bukan lukisannya, melainkan atapnya. Affandi merancang sendiri seluruh kompleks ini dengan garis-garis melengkung dan atap yang meniru bentuk pelepah daun pisang — bentuk yang berulang di hampir semua bangunan dan membuat museum ini mustahil disamakan dengan galeri lain.

Kompleks seluas sekitar 3.500 meter persegi ini dipenuhi pepohonan dan tanaman bunga yang tumbuh rapat di sela bangunan. Efeknya terasa langsung: sepanas apa pun Jogja siang itu, area museum tetap teduh dan suhunya turun beberapa derajat begitu melewati gerbang.

Di tengah kompleks berdiri Café Loteng, bangunan berbentuk rumah panggung dengan ukiran kayu dan tanaman di sekelilingnya. Tiket masuk bisa ditukar dengan satu minuman di sini, jadi tempat ini biasanya jadi titik istirahat setelah berkeliling galeri.

Yang sering luput diperhatikan: makam Affandi berada di dalam kompleks, tepatnya di antara bangunan galeri pertama dan kedua. Sang maestro yang wafat pada 23 Mei 1990 itu meminta dimakamkan di sana agar tidak jauh dari rumah dan karya-karyanya.

Tiga Galeri dengan Fungsi Berbeda dan Info Kunjungan

Museum ini dibangun bertahap dalam rentang waktu yang panjang. Affandi mulai membangunnya sekitar 1962 dari hasil penjualan lukisannya sendiri, lalu diresmikan untuk umum oleh Direktur Jenderal Kebudayaan pada 1974, dan pengembangannya terus berlanjut sampai 2002.

Galeri I memajang koleksi retrospektif yang merentang dari 1930-an hingga 1980-an, termasuk karya fase naturalis seperti “Self Portrait” tahun 1938. Di ruang ini juga dipajang perkakas melukis Affandi — kuas, cat minyak, pensil — berikut sandal jepit dan kaus putih yang ia pakai sekaligus jadikan lap tangan saat melukis.

Galeri II terdiri dari dua lantai. Awalnya dipakai memamerkan lukisan Affandi yang dijual, kemudian berkembang menjadi ruang pameran karya pelukis lain serta koleksi sketsa sang maestro.

Galeri III adalah yang paling menarik secara fungsi. Didirikan pada 1997 dan diresmikan Sri Sultan Hamengku Buwono X, bangunan ini punya tiga tingkat: lantai dasar untuk ruang pameran, lantai atas untuk perawatan dan perbaikan lukisan, serta ruang bawah tanah sebagai gudang penyimpanan. Di dekatnya berdiri menara pandang yang menghadap langsung ke Sungai Gajah Wong.

Koleksi lukisan Affandi yang tersimpan berjumlah sekitar 300 buah dan dipamerkan bergantian secara berkala — artinya kunjungan di waktu berbeda belum tentu menampilkan karya yang sama.

Tiket masuknya Rp50.000 untuk wisatawan domestik dan Rp100.000 untuk wisatawan mancanegara, sudah termasuk satu minuman dan suvenir. Pelajar dan mahasiswa mendapat potongan 50 persen, sehingga menjadi sekitar Rp25.000 untuk pelajar lokal. Museum menerima kunjungan mulai pukul 09.00 sampai 16.00 WIB. Beberapa sumber menyebut museum buka setiap hari, sementara yang lain mencantumkan satu hari libur mingguan, jadi ada baiknya memastikan lewat kontak resmi museum sebelum datang — terutama untuk kunjungan rombongan yang memang disarankan melakukan reservasi.

Eksplorasi Destinasi Sekitar di Sleman Barat Daya

  • Embung Tambakboyo - sekitar 4 km - Waduk 7,8 hektar dengan jogging track keliling 1,5 km yang ramai saat pagi dan senja.
  • Upside Down World Jogja - sekitar 4 km - Galeri foto berisi puluhan ruangan terbalik, pilihan ringan setelah museum seni.
  • Monumen Jogja Kembali - sekitar 6 km - Bangunan kerucut berisi diorama perjuangan 1949 dan Taman Pelangi di malam hari.

Kesimpulan

Museum Affandi bukan sekadar tempat memajang lukisan, melainkan rumah, studio, dan makam sang pelukis sekaligus — semuanya dirancang oleh tangannya sendiri. Kombinasi itu membuat kunjungan ke sini terasa lebih personal ketimbang museum seni pada umumnya, dan tiketnya yang sudah termasuk minuman membuat betah berlama-lama di Café Loteng.

FAQ: Seputar Museum Affandi

Berapa harga tiket masuk Museum Affandi?

Rp50.000 untuk wisatawan domestik dan Rp100.000 untuk wisatawan mancanegara, sudah termasuk satu minuman dan suvenir. Pelajar dan mahasiswa mendapat diskon 50 persen.

Kapan jam buka Museum Affandi?

Kunjungan diterima mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Informasi mengenai hari libur mingguan berbeda-beda antar sumber, jadi sebaiknya dikonfirmasi ke pihak museum sebelum berangkat.

Apakah Affandi dimakamkan di museumnya sendiri?

Ya. Makam Affandi berada di dalam kompleks museum, di antara bangunan galeri pertama dan kedua. Ia wafat pada 23 Mei 1990 dan meminta dimakamkan dekat rumah serta karya-karyanya.

Berapa jumlah koleksi lukisan di Museum Affandi?

Sekitar 300 lukisan karya Affandi tersimpan di museum dan dipamerkan bergantian secara berkala. Selain itu terdapat koleksi karya seniman lain, sketsa, patung, dan benda-benda pribadi Affandi.

Rencanakan Trip Jogja-mu

Ada pertanyaan? Hubungi kami di WhatsApp. Konsultasi gratis, tanpa kewajiban.

Chat WhatsApp