10 Kuliner Khas Bantul yang Wajib Dicoba, dari Sate Klatak sampai Mie Lethek
Bantul punya kuliner khas yang jarang ditemukan di kota lain — dari sate berbahan besi jeruji sampai mi dari tepung singkong. Ini 10 yang wajib dicoba.
Jogja identik dengan gudeg dan bakpia, tapi kalau mau kuliner yang lebih otentik dan jarang ada di kota lain, Bantul adalah tempatnya. Beberapa dari kuliner ini bahkan cuma bisa ditemukan di daerah asalnya.
1. Sate Klatak
Sate kambing yang ditusuk pakai jeruji besi, bukan bambu — bikin panas menyebar merata ke seluruh daging saat dibakar. Sate Klatak Pak Pong di Wonokromo, Pleret, adalah yang paling melegenda, sudah berjualan sejak era 1960-an.
2. Mie Lethek
Mie berwarna coklat kusam (“lethek” artinya kotor dalam bahasa Jawa) yang dibuat dari tepung singkong dan tapioka, berasal dari Srandakan. Diolah tanpa pengawet, disajikan goreng atau kuah.
3. Gudeg Manggar
Beda dari gudeg pada umumnya yang berbahan nangka muda, gudeg manggar memakai putik bunga kelapa (manggar) sebagai bahan utama. Rasanya lebih gurih dan sedikit berbeda teksturnya.
4. Ayam Ingkung
Ayam kampung utuh yang diungkep dengan bumbu dan santan kental selama berjam-jam sampai empuk, biasa disajikan dengan nasi hangat dan sambal.
5. Bakmi Pentil (Mides)
Mi tebal berwarna putih-kuning yang berasal dari Pundong, teksturnya gurih dan kenyal — beda dari mi lethek meski sama-sama berbahan tepung singkong.
6. Geplak
Camilan manis dari kelapa parut dan gula yang dimasak jadi tekstur kenyal berwarna-warni — oleh-oleh khas yang biasa jadi teman minum teh.
7. Jadah Tempe
Kombinasi ketan gurih dengan tempe bacem manis — perpaduan rasa yang kontras tapi klop, cocok untuk camilan sore.
8. Soto Bantul
Soto berkuah bening dengan daging sapi, disajikan dengan perasan jeruk nipis dan taburan bawang goreng — cocok untuk sarapan.
9. Sego Kucing
Nasi porsi kecil dengan lauk seperti oseng tempe atau sambal teri, biasa dijual di angkringan-angkringan Bantul dengan harga yang sangat terjangkau.
10. Wedang Uwuh
Minuman rempah hangat khas Imogiri, berisi campuran serutan kayu secang, jahe, dan daun-daunan kering. Sering disebut “wedang sampah” karena tampilannya yang penuh serutan, tapi khasiatnya bikin badan hangat.
Kalau mau eksplorasi kuliner Bantul secara maksimal, kombinasikan dengan rute wisata — misalnya sarapan soto di kota, sate klatak di Pleret siang hari, lalu tutup sore dengan wedang uwuh di kawasan Imogiri sambil ziarah ke makam raja.


